April 5, 2012

Dua Satu

Betapa mudahnya, sekita sekalian
Bersama sama menjadi bodoh aneh dan bersenang senang
Karena kita muda dan hanya bercanda

Betapa biasanya, seaku sekau sekalian
Pergi mendekap dan berbagi tangis
Lalu balik mencaci kata pada kata
Kemudian terbahak
Dan mendekap
Lalu menangis
Lalu mencaci
Kemudian terbahak
Karena kita muda dan tidak peduli

Semua ini semu
Kita rapuh dan kita tidak selalu satu
Tapi tak apa
Karena kita tak pernah ikrar ini kekal

Karena tidak kita bawa sisa sisa rasa
Dan tak kita cari janji janji masa
Kita hanya ada
Detik ini
Di sini

Kita adalah janji janji yang ingkar
Kita adalah lara yang disimpan sendiri
Kita adalah bisik bisik tanpa nyali
Kita adalah nyawa selama catur dan sapta
Tapi tak apa

Kita muda
Kita tertawa
Dan kita acuh pada dunia

Babbling : Social Media

Semua pasti tahu Instagram. Photo sharing application yang tadinya eksklusif untuk pengguna iOS ini sekarang udah bisa di download gratis di Android Market. Kabar-kabarnya sih banyak iPhone owner yang nggak suka. Kalo saya sih karena bukan iOS user ya seneng-seneng aja dapet Instagram, langsung berasa gaul beudzz gitu.

Instagram sebenernya mirip banget konsepnya sama Tumblr, tapi lebih simple, lebih user friendly, lebih populer, tapi lebih menyeramkan.
Instagram yang tadinya saya kira artsy community macam Tumblr ternyata lebih mirip Twitter dalam versi photo sharing. Fungsi utamanya sebagai tempat share foto kayaknya udah mulai berubah jadi sarana untuk kepo bagi sebagian orang.

Biarpun kepo itu seru, agak seram kadang ketika mendengar orang mulai menggosipi foto-foto di Instagram orang lain. Yang si A post foto boneka dibilang sok imut lah. Si B post foto tas-tas branded dibilang fotonya hasil search di Google lah. Si C post foto liburan di Jakarta dibilang norak lah. Si D post foto lagi berbikini dibilang nggak punya malu lah. Komentarnya adaaa aja, and it never stop to amuse and scare me at the same time. Yang tadinya mau ikut-ikutan post foto di Instagram jadi agak segan.

Beda sama Tumblr. On Tumblr, I'm free. I'm anonymous. There's so many people, and no one give a damn on who you are, what your real name is, where do you live, how pretty or how rich you are as long as you keep posting things that worth reblogging for. People will follow you because they like your posts, and not because you ask them too or because they want to peer into your life. On Tumblr, when someone follow you, it actually mean they're following you as in admire you, and not spying on you.

Yes I love Tumblr so very much. Tapi bukan berarti saya nggak pernah ngerasain nggak enaknya. Saya pernah post tulisan, isinya pendapat pribadi tentang satu accident di Kpop fandom.Tiga puluh menit setelahnya, inbox saya penuh dengan berbelas-belas hateful comments dari fans-fans si Kpop group ini. Semua bilang mereka nggak setuju sama post saya. Beberapa menyampaikan keberatannya dengan baik-baik, sopan, ditambah emote senyum. Tapi kebanyakan justru marah-marah heboh, saya dibilang stupid lah, idiot lah, nggak bisa mikir lah, nggak punya otak, super dumb lah.

Social media semakin ke sini makin canggih. Yang dulu cuma ada Friendster sekarang kita punya Skype. Yang dulu main Wordpress sekarang pindah ke Pinterest. Foursquare, Path, Omegle, Facebook, Twitter, YouTube, social media berkembang terus mengakomodir keinginan kita untuk berinteraksi. Ketika satu social media mati atau mulai sepi, akan muncul yang baru dengan kemampuan yang lebih mumpuni. And we will love every single one of them. Because social media fulfill one of our basic needs as human. Attention.

Yang jadi masalah adalah kadang kita nggak bisa ukur perhatian yang seperti apa yang bakal kita terima dari hal-hal pribadi yang kita share ke publik. Maksudnya post foto karena seneng bisa liburan ternyata malah dikomentari kampungan. Posting tulisan yang sebenarnya pendapat pribadi ujung-ujungnya malah di-bash. Sibuk check-in di Foursquare dibilang berlebihan. Nge-tweet curhat dibilang lebay. 

Akun-akun yang kita punya di Twitter, Blogspot, Facebook, dan seabrek social media lainnya tujuan utamanya kan memang untuk share news and our personal info. Lantas ketika hal-hal yang kita share ke publik itu justru mengundang komentar negatif, konflik-konflik nggak penting, dan perhatian yang nggak diinginkan, gimana? 

Berapa banyak yang orang lain perlu tahu tentang kita, atau sebaliknya?
Kenapa mereka perlu tahu, dan kenapa kita perlu tahu?

Social technologies created a world of always-on connection, endless social interactions, and over-sharing. Whether you're going to swim along the wave or just sit on the side and watch, it depends on you. Just remember to swim and to watch smartly.



“We have invented inspiring and enhancing technologies, yet we have allowed them to diminish us.” - Sherry Turkle





April 4, 2012

Dreams Do Come True

Teenagers itu wajar galau. Sering nggak bahagia, selalu merasa kurang, merasa nggak dimengerti, merasa sendirian in this wide wild world. Wajar, semua pasti pernah ngalamin.

Buat saya dan mereka yang sekarang di tahun terakhir SMA, saat-saat sekarang ini adalah momennya galau maksimum. Mulai dari galau-galau standar tentang pacarlah, galau mau pisah sama temenlah, galau mikirin UN, galau mikirin kuliah, galau mikir kedepannya ke mana, mau ngapain, mau gimana.

Planning the future itu sulit. Keinginannya ada, mimpinya ada, niatnya juga ada. Tapi kenyataan dan keadaan yang kadang justru nggak sesuai.

Kita bermimpi jadi arsitek. Melihat bangunan-bangunan indah yang dibangun dari mimpi membuat kita ingin ikut membuat satu. Tapi ternyata kita nggak punya bakatnya, atau nggak lulus-lulus, atau lulus dengan hanya membawa gelar dan sketsa-sketsa dan mimpi yang makin basi.

Kita bermimpi berkeliling bumi. Dengan modal peta, ransel, kemampuan bahasa yang sepas-pasan uang di tabungan, dan hati yang memimpikan keajaiban, kita berangan-angan bisa melihat dunia. Kita mau mengecap, merasa, melihat, dan mendengar keindahan semesta.
Tapi jarak tidak bisa ditempuh dengan mimpi. Jarak harus dilewati dengan membeli,dan untuk membeli harus punya materi. Maka kita mencari, mati-matian mengumpulkan pundi demi pundi. Sampai akhirnya kita mati, dengan tabungan yang baru setengah terisi, sisanya untuk menyimpan mimpi.

Bad things happened, because life isn't always a happy ending story like Disney movies. Kadang meski kita sudah mengupayakan semampunya, we still can't get that glass slippers. We die instead, like Snape Or we survive, but with a price to pay, like Harry. (forgive me for this sudden Potter reference, just start re-reading it, and gosh isn't it the best series we've ever had?)

Semua boleh punya mimpi. Semua harus punya mimpi. Tapi semesta juga boleh menentukan mana yang akan ia jadikan nyata.

Ketika orang bertanya rencana saya ke depan, saya mau kuliah di Jogja. Kalo memungkinkan saya mau belajar bikin uang. Saya mau cepat lulus. Saya nggak mau buru-buru nikah. Saya mau married di saat yang tepat dengan orang yang tepat, meskipun harus nunggu sampai empat puluh. Saya mau kerja di luar negeri biar sekalian bisa jalan-jalan dan melihat dunia dari sisi yang berbeda. Saya mau ikut charity work. Saya mau punya rumah sendiri, dengan dapur yang fantastis dan kamar sekeren kamar bikinan saya di The Sims. Saya mau keliling dunia.

And I want to be a mother. I will teach my children equality and respect. I'll show them kindness and love and passion. I'll let them dream. I will show them wonders of the world. And I'll tell them that dreams do come true.

Those are my dreams. We'll see wich one do come true. Dan kalaupun nggak ada yang 'come true', saya yakin akan ada kebahagiaan-kebahagiaan lain dari semesta untuk saya.
Those are my dreams. What are yours?



Published with Blogger-droid v2.0.4

April 1, 2012

The same dream, over and over again

Is this another sign, Almighty?

That someone is going to die again?

I abandoned Your signs before.

And look how I regret it all the time.


Is this another sign, Almighty?

Cause I'm not smart enough to solve your riddles.


Published with Blogger-droid v2.0.4

March 23, 2012

The Hunger Games is amazing. Period.


Just came back from watching The Hunger Games, and loving every minute of it. This movie is amazing. Period.
I've read the book, thrice. And every time I read it, I still felt the goosebump like the first time I got into this trilogy. I've cried and got scared by this book like never before, simply because this book is amazing. Imagine how excited I was when the news about the upcoming movie surfaced. It's a long time waiting, digging information and photos like crazy. Now that I've watched it, I've no regret. AT ALL!

Buat yang baca novelnya, filmnya jelas memuaskan.
Jalan ceritanya setia sama novelnya. Alurnya pun pas, runtun, jadi yang nggak baca bukunya pun bisa ikutin. Semua part-part penting ada dan sama, sesuai deskripsi novelnya, Kalaupun ada pemotongan, penambahan, atau perubahan sedikit-sedikit disana-sini juga nggak mengganggu cerita.
Yang agak kurang menurut saya, adalah penekanan bahwa Hunger Games ini... brutal? I mean, setiap tahun anak-anak harus mendaftar untuk ikut kompetisi dimana semua akan saling bunuh, for real. Ada yang mati dehidrasi, mati beku, mati kelaparan, mati gosong, digorok macam sapi, bahkan ada yang jadi kanibal karena gila. And yet, setiap tahun Hunger Games wajib diperlakukan selayaknya festival, harus dirayakan, dan wajib ditonton semua orang di semua distrik. Orang-orang dipaksa melihat keluarga, teman, kenalan mereka mati di televisi, sebagai hiburan. Ironi itu, rasa jijik dan helpless itu, yang menurut saya lebih berasa kalo kita baca sendiri bukunya.

Anyway, penggambaran keadaan di distrik-distrik yang miskin sampai ke Capitol yang maju dan modern bagus. Dan kostum-kostum sama makeupnya orang-orang Capitol itu gila. Baguuuuus, unik, ajaib, aneh, pas sama penggambaran di buku dan bayangan saya. I wonder how much those costumes cost though....
Saya pribadi puas sama tokoh-tokohnya. Jennifer Lawrence pas jadi Katniss, galaknya dapet, nggak luar biasa cantik tapi menarik, nyebelin dan selfishnya ada, tapi tetep bikin simpatik. Saya awalnya agak gak suka Josh Hutcherson jadi Peeta, nggak sesuai bayangan saya soalnya. Tapi ternyata justru pas. Effie, Caesar Flickerman, Foxface, Rue, Cato, Clove, Glimmer, Rue, Tresh, semua pas. Oh, and I love Cinna. Awalnya memang nggak kebayang kalo Cinna itu berkulit hitam, tapi begitu tahu yang main Lenny Kravitz and he turned out great, no I'm not complaining. Oh, and I looove that they didn't forget Cinna' gold eyeliner. Haymitch-nya juga pas mabuknya, nyebelinnya, sekaligus how he actually try to help Katniss.

Yang bikin sebel itu Gale. Why Liam Hemsworth, why??? He's way too handsome its not fair! I used to support Peeta, and now look how I wish Katniss ended up with Gale.
Saya suka semua soundtracknya (kecuali lagunya Taylor Swift, sudah pasti. Yuck) Favorit saya jelas the four-notes Rue's Whistle. It hardly called a song though, tapi sebagai salah satu bagian paling ikonik dari ceritanya, it's perfect. That 4 notes is haunting, sad, and yet beautiful.

Bagian bunuh-bunuhannya juga pas. Walaupun sudah di tone-down dan less brutal dibanding bukunya, menurut saya malah lebih pas untuk konsumsi grafis. And personally, I felt grateful  they didn't mention details about the mutts, and how they're all actually created from the dead tributes' DNA. I hate that part, it's sad, immoral, and disgusting.
Filmnya sendiri jelas punya beberapa kekurangan dibanding bukunya, misalnya :
- The three-fingers salute. Di filmnya cuma digambarkan sekilas, cenderung aneh, meaningless, dan mungkin malah lucu. Di bukunya, momen ketika semua orang di distrik memberi hormat ke Katniss digambarkan 'sakral', dan bahwa ada arti dibalik gerakan tangan yang nggak biasa itu.
- The Mockingjay. Baik pin dan burungnya, filmnya kurang sukses menyampaikan pentingnya peranan si Mockingjay ini.
And I don't know if it's just me, tapi rasanya filmnya kurang kasih lihat bahwa Katniss itu cuma pura-pura cinta ke Peeta. Sebaliknya, rasanya justru seolah-olah Katniss akhirnya suka dan beneran peduli ke Peeta. Not that I'm complaining, though. I do hate that side of Katniss, and I'm glad that the movie made her more... likeable.

Anywaaaaay
Intinya film dan buku adalah dua media yang berbeda. Mencoba membandingkan keduanya adalah percuma. Lebih baik dinikmati aja dua-duanya, sebagai dua penyajian yang berbeda, dengan kelebihannya masing-masing.
As a movie, The Hunger Games did an extremely good job. I was left mouth-gaping, and it will haunt my mind for days, for sure.

March 19, 2012

The one with the simplest mind


That man up there is Tablo. He's 32 years-old, married, father of one, and couldn't be considered handsome in any sort of ways.
But he's a damn good rapper from the mighty Epik High. He writes damn good songs with lyrics that simply stunning. Oh, and he's a Stanford University graduate.
Behind that, well, not-so-good-looks, there's a man with unbelievably amazing talents who writes words like a wise man. And that made him much more attractive than those muscular-six packs hunks.

Anyway....
Some things happened to me these past few weeks. Things that remind me to see and not to judge. Things that changed my point of view and made me learn.

I learned that the one who talk the most are the one who lie the most.
I learned that the one with the most venomous words is the one who throw the sweetest word.
I learned that the selfish one is surprisingly the one who care the most.
I learned that the stranger is the one who understand the most, while the closest one is the one who doesn't give a shit.
I learned that the smartest isn't always honest.
I learned that the one who joke the most is the most responsible one.
I learned that the arrogant one is the one with the biggest pressure
And I learned, that the one I used to underestimate. the one that I thought not good for anything, the one that irritate me the most, are the one with the kindest heart.

And I remembered, that the one who had the simplest mind is the one who had all the answer.

February 7, 2012

Masih

Saya cuma mau minta waktu. Sebentar. Sekedar untuk membagi detail-detail kecil yang hampir basi saking lamanya tidak bicara. Tapi dia malah diam. Dilihat lalu dibuang. Sebegitu sibuknya kah? Sebegitu tidak pedulinya? Ini bukan basa-basi, melainkan krama yang tepat. Saya bukan kamu yang bisa sekian lama tidak saling sapa lalu tiba-tiba datang dengan sejuta lara, bicara tanpa membuka telinga seolah saya tidak punya asa sendiri untuk dibagi. Keterbukaan itu penting, tapi manusia tidak bisa serba lugas. Tutur kata harus tahu krama, dan basa-basi bukan dosa selama tujuannya karena peduli.

Ketika mereka bertanya mengapa kalian begitu berjarak, yang salah bukan apa yang kalian cerna, melainkan seberapa tinggi kalian meletakkan kepala dan harga diri. Kebanggaan yang berlebihan itu yang memuakkan. Seberapa hebat kamu pikir semua angka itu ketika nyatanya tak satupun di luar sana yang peduli? Ketika tak ada yang ingat namamu bahkan ketika mereka bertepuk untukmu? Tidak punya arti semua, ketika nyatanya tak satupun di luar sana yang peduli.

Ketika mereka bertanya mengapa kalian begitu berjarak, yang salah bukan apa yang kalian cerna melainkan seberapa tinggi kepala itu kau tengadahkan.
Padahal langit itu tinggi. Masih terlalu tinggi.

Va te faire foutre, enculé